Pengalaman Kami (THMT_Etika Enjinering)

Ahmad Faqih (0806329786)
Keyword : Disiplin
Mobile : +628569809954
Email : brik_jazz@yahoo.com
BAGIAN PERTAMA
Kunjungan ke Yayasan Bina Insan Mandiri – Depok, 2 Oktober 2010
Tugas dari mata kuliah etika enjinering yang pertama adalah mengunjungi tempat-tempat kaum marjinal. Tempat yang berhasil kami kunjungi adalah YABIM ( Yayasan Bina Insan Mandiri) yang merupakan yayasan sekolah gratis yang diperuntukan bagi kaum dhuafa yang terletak disekitar terminal depok. Siswa yang berhasil kami ajak berbincang adalah beberapa orang dari tingkat SMA dan mereka pun bersedia bercerita tentang YABIM, salah satunya adalah siswa yang bernama Ariel Lunda, yang berasal dari Medan. Menurutnya keterangannya, yayasan ini didirikan sekitar tahun 2000-an oleh seorang bapak yang bernama Abdul Rohim. Menurut keterangan dari para siswa YABIM, pekerjaan bapak Rohim adalah pengusaha dan saat ini beliau sedang menempuh pendidikan S2 di bidang hukum pada salah satu universitas di Jakarta tetapi para siswa tidak tahu nama universitasnya. Pada awal rencana pendirian yayasan ini, bapak Rohim banyak mendapatkan halangan dari berbagai pihak. Misalnya saat beliau berencana ingin mendirikan sekolah gratis bagi kaum dhuafa, tidak sedikit orang yang meragukan bahkan menanggap niat baik dari bapak Rohim hanyalah mimpi belaka. Orang-orang banyak yang menganggap pada zaman seperti sekarang ini sangat mustahil untuk mendirikan sebuah sekolah gratis, bahkan menurut mereka segala sesuatu didunia ini harus bayar “mau kencing aja harus bayar”, ujar Ariel. Namun, meskipun banyak orang yang tidak mendukungnya bapak Rohim tetap berusaha untuk mewujudkan cita-cita nya yang mulia itu. Dengan berbekal sedikit uang dan tanah yang dimilikinya, yang kini telah menjadi sekolah, bapak Rohim berjuang dengan sangat gigih untuk mendirikan sebuah sekolah gratis diatas tanah miliknya itu. Sedikit demi sedikit beliau mengumpulkan dana dan sambil sekolah gratis tersebut berjalan seadanya dengan tenaga pengajar beliau sendiri dibantu beberapa orang kerabatnya, beberapa orang mulai simpati dengan perjuangan bapak Rohim dan turut membantu, baik dalam hal dana maupun dengan menjadi tenaga pengajar suka rela.
Saat ini, YABIM menjalankan kegiatan sekolah gratis mulai dari tingkat TK sampai dengan SMA dan memiliki total siswa sebanyak 1000 siswa lebih dan telah meluluskan ribuan siswa. Sebagian besar dari mereka mengetahui YABIM dari saudara maupun dari informasi-informasi yang tidak sengaja mereka dapat. Siswa-siswa YABIM ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan mayoritas siswa YABIM beragama Islam, tetapi ada juga beberapa siswa yang beragama selain Islam tetapi tetap dapat sekolah di YABIM. Para siswa YABIM pun sangat menghargai keberagaman dan bersifat toleransi terhadap siswa yang
beragama lain. Banyak siswa-siswa YABIM yang masih memiliki orang tua, tetapi karena keadaan orang tua mereka yang kurang mampu, mereka memilih untuk bersekolah gratis di YABIM. Sebagian besar pekerjaan dari orang tua siswa YABIM adalah bekerja serabutan di daerahnya masing-masing. Jumlah siswa SMA YABIM ada lebih dari 60 orang, mereka rata-rata berumur 16-21 tahun. Di YABIM ini, tidak mempedulikan umur untuk bersekolah, meskipun sudah berumur cukup tua mereka yang ingin bersekolah di YABIM tetap diterima dengan baik, karena menurutnya tidak ada kata terlambat untuk belajar.
YABIM juga menyediakan tempat tinggal gratis seperti asrama bagi para siswa yang ingin tinggal di sana, terutama yang berasal dari daerah yang jauh. Untuk sehari-hari, YABIM memberikan makan dan minum bagi seluruh siswa secara gratis. Selain itu, buku-buku pelajaran juga dipinjamkan secara cuma-cuma kepada seluruh siswa yang mana buku tersebut selanjutnya dapat diwariskan kepada adik-adik kelas mereka.
Di yayasan ini, para siswa diajarkan banyak pelajaran, mulai dari pelajaran sekolah umum sampai dengan pelajaran keterampilan dan kesenian yang dapat menjadi modal para siswa untuk hidupnya kelak. Berbagai macam keterampilan dan kesenian yang diajarkan disini misalnya, untuk para siswa perempuan diajarkan memasak dan menjahit, sedangkan untuk para siswa laki-laki diajarkan kesenian marawis, perkusi, dan olah raga seperti futsal, badminton, dan tennis meja. Tidak hanya itu, siswa di YABIM pun mendapatkan pelajaran bahasa Inggris dan komputer hingga internet, bahkan menurut Ariel, dia dan teman-temannya memiliki akun facebook dan terkadang pergi ke warnet bersama teman-temannya untuk bermain facebook atau sekadar chating di sela-sela waktu senggangnya. Sebagian dari siswa YABIM ada yang mencari uang sendiri dengan cara berjualan Koran, mengamen, dan juga membantu saudaranya berdagang di sekitar terminal depok. Mereka juga aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial, misalnya membantu membersihkan lingkungan sampai membantu pekerjaan-pekerjaan umum seperti mengangkatkan batu-batu bila ada pekerjaan bangungan.
Para siswa SMA YABIM yang kami ajak ngobrol, mereka tidak segan-segan untuk cerita banyak mengenai kehidupan mereka di YABIM. Menurut mereka, meskipun mereka bersekolah di sekolahan gratis mereka tetap memiliki semangat yang besar untuk meraih sukses seperti layaknya orang-orang yang bersekolah di sekolah favorit atau sekolah elit. Mereka juga memiliki cita-cita yang tinggi seperti hal nya anak-anak yang memiliki kehidupan lebih layak darinya. Menurutnya, semua orang memiliki hak untuk berhasil, tidak peduli bagaimana latar belakang mereka karena yang menentukan sukses atau tidaknya seseorang bukan dari tingkat ekonomi atau pendidikannya, tetapi kesuksesan itu ditentukan oleh sikap dan terus berdoa kepada Tuhan yang maha kuasa. Kesuksesan yang hakiki menurutnya, bukan diukur dari segi materi yang dimilikinya atau jabatan yang didudukinya, tetapi kebahagiaan dalam menjalani hidup dan dapat membagi kebahagiaannya itu kepada orang lain. Ariel juga menambahkan, meskipun hidup miskin harta, mereka juga dapat merasakan kebahagiaan dan kesuksesan yang belum tentu dimiliki oleh orang-orang kaya.
Asalkan mereka dapat menjalani hidup dengan tenang dan beribadah dengan tenang mereka sudah mendapatkan kesuksesan yang hakiki.
Pendidikan di YABIM terutama sekali ditekankan pada masalah agama. Mereka harus selalu memegang teguh agama dalam kehidupannya dan harus selalu taat beribadah kepada Tuhan. Menurut mereka, agama merupakan penuntun pada jalan yang benar yang akan mengantarkan mereka pada kesuksesan dunia dan akhirat. Mereka tidak pernah mengeluh dengan kondisi ekonomi nya, menurutnya rezeki sudah diatur oleh Tuhan dan Tuhan pasti akan menjamin rezeki setiap makhluknya.
Dana untuk kegiatan operasional YABIM ini berasal dari berbagai sumber, dari pemda setempat, dari Basnas yang menurutnya sangat membantu, dan dari para donator termasuk dari kantong bapak Rohim sendiri. Sayangnya, saat kami berkunjung ke YABIM bapak Rohim sedang tidak ada di tempat padahal kami ingin sekali mewawancarai beliau secara langsung. Bapak Rohim tinggal di sekitar depok, dan beliau rutin berkunjung ke YABIM untuk sekedar melihat kegiatan para siswa dan juga untuk sesekali mengajar. Guru-guru yang mengajar di YABIM ini dibayar sekadarnya saja karena tujuan mereka adalah beramal dan membantu siswa-siswa yang ingin menuntut ilmu. Banyak guru yang sekarang mengajar di YABIM yang merupakan alumni dari YABIM. Mereka dulu pernah bersekolah di YABIM dan sekarang ingin berbakti untuk YABIM tanpa dibayar sepeser pun.
Banyak alumni YABIM yang sudah berhasil, sebagian dari mereka ada yang ber-wirausaha, ada yang bekerja di kantor, bahkan menjadi seniman. Tidak sedikit juga alumni dari YABIM yang melanjutkan ke perguruan tinggi, banyak dari mereka yang mendapatkan beasiswa, baik itu dari donator, pemda, ataupun dari universitas setempat. Bahkan, ada beberapa alumni YABIM yang berhasil diterima di Universitas Indonesia, mereka tersebar di beberapa fakultas, MIPA dan FIB misalnya, sebagian besar dari mereka mendapatkan beasiswa dari UI. Menurut cerita dari salah seorang siswa YABIM, ada alumni mereka di fakultas ilmu budaya (FIB) yang mendapatkan beasiswa dan sekarang sudah berhasil, dia bernama Ais. Menurutnya, Ais saat ini sudah memiliki bisnis rumah makan di sekitar gang kober dan sambil menjalankan bisnis properti di sela-sela waktu kuliahnya. Banyak alumni YABIM yang kini sebagai mahasiswa masih tetap sering datang ke YABIM untuk mengajar siswa-siswa dan ada juga sebagian dari mereka yang tetap tinggal di asrama YABIM.
Menurut para siswa, tinggal di YABIM sangat menyenangkan dan memberikan tantangan. Mereka harus hidup bersama dengan orang-orang lain dari berbagai daerah dan dengan berbagai karakter yang berbeda. Disini, mereka diajarkan untuk saling menghargai dan toleransi dengan perbedaan yang ada. Selain itu, mereka juga diajarkan untuk hidup mandiri karena jauh dari orang tua. Mereka harus mencuci baju sendiri, mencari uang jajan sendiri, dan berusaha menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi secara dewasa. Terkadang, ada juga konflik yang timbul di antara para siswa, bahkan sampai perkelahian fisik. Akan tetapi, masalah tersebut segera mereka selesaikan secara damai dan kembali berteman seperti biasa. Mereka menganggap pertemanan mereka sudah seperti saudara,
mereka tidur bersama, makan bersama, main bersama, dan berjuang bahkan susah bersama. YABIM juga sering memberikan hiburan kepada para siswa dengan mengajak mereka berjalan-jalan ke tempat rekreasi, ke Ancol misalnya.
Ketika kami menanyakan tentang mimpi-mimpi dan cita-cita mereka, banyak dari mereka yang memiliki cita-cita mulia, misalnya mereka ingin melanjutkan pendidikan yang setinggi-tingginya dan kemudian mengabdi untuk YABIM, ada juga yang ingin mendirikan sekolah-sekolah gratis lain di seluruh Indonesia bagi anak-anak yang kurang beruntung seperti mereka. Mereka berharap semua anak Indonesia dapat memiliki pendidikan yang layak dan mempunyai harapan untuk berhasil. Ariel juga menyampaikan mimpinya kepada kami bahwa dia ingin menjadi presiden menggantikan presiden saat ini yang dinilainya kurang adil dan kurang berani. Bahkan, kelak dirinya ingin menjadi pemimpin yang disegani dunia, seperti Barrack Obama katanya. Apabila mereka sukses, mereka ingin sekali membantu para kaum dhuafa agar kehidupannya lebih layak
Mereka juga berkomentar tentang berbagai permasalahan terkini yang menyangkut negeri ini. Menurut mereka, seandainya uang kasus Bank Century yang dikorupsi itu disumbangkan untuk YABIM dan yayasan sosial lainnya, pasti sudah banyak anak Indonesia yang dapat merasakan sekolah gratis dengan kualitas yang baik, dan kesejahteraan guru-guru pun dapat ditingkatkan. Mereka juga sangat membenci koruptor karena telah mengambil uang rakyat, yang mana termasuk uang mereka juga. Ketika kami menanyakan apakah mereka ingin menjadi artis, dimana artis dapat dengan sangat mudah mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat dan terkenal, semuanya menjawab tidak ingin menjadi artis karena menurut mereka banyak dari pekerjaan artis yang tidak terpuji, terutama Ariel Lunda yang merasa risih dengan kasus Ariel-Luna Maya karena namanya yang mirip dan sering disindir sebagai Ariel Peterpan.
Begitu kami menanyakan kepada mereka mengenai keluhan apa saja yang mereka alami dan apa saja yang mereka harapkan dari pemerintah atau orang-orang kaya, Agus Suwandi, teman Ariel Lunda menyampaikan bahwa mereka kekurangan guru-guru yang kompeten dan juga ruangan kelas untuk belajar. Ruang kelas yang mereka miliki sekarang pun sangat terbatas dengan kondisi yang kurang layak sehingga berharap ada yang dapat memperbaikinya. Mereka juga berharap ada lebih banyak lagi para donatur yang mau membantu mereka. Selain itu, mereka juga berharap kepada para mahasiswa, khususnya dari UI, agar mau membantu mengajarkan mereka dengan suka rela. Mereka juga meminta kami menyampaikan kepada pemerintah untuk terus memberantas korupsi dan juga memperhatikan nasib para kaum dhuafa seperti mereka khususnya dibidang pendidikan.
Akhirnya, ada sekian banyak pelajaran hidup yang dapat kami ambil dari mereka bahwa dalam hidup ini jangan hanya bisa mengeluh, tetapi terus berjuang dan berjuang disamping berdoa kepada Tuhan. Kesuksesan yang hakiki bukanlah diukur dari seberapa banyak harta dan tahta yang kita miliki, tetapi seberapa bahagia hidup kita dan seberapa banyak orang yang dapat turut merasakan kebahagiaan dengan mengambil manfaat dari
kita. Meskipun dengan segala keterbatasan yang dimiliki, kita harus tetap mempunyai semangat dan mimpi yang tinggi karena hal itulah yang dapat membuat kita tetap dapat bertahan menjalani hidup ini, dan yang terpenting tidak lupa untuk selalu taat kepada Tuhan dan memegang teguh agama dalam segala hal di kehidupan ini.
BAGIAN KEDUA
Essay – Cerita dari YABIM
YABIM (Yayasan Bina Insan Mandiri) terletak disekitar terminal depok. Untuk mengunjungi Yabim, kita dapat berjalan kaki sebentar dari terminal depok. Tidak jauh dari Musholla dekat terminal ada jalan kecil, disitulah letak dari yayasan sekolah gratis bagi kaum dhuafa ini. Letaknya yang agak dipojok dan bangunannya yang tidak seperti sekolah pada umumnya, membuat Yabim tidak banyak dikenali sebagai sebuah sekolah, kecuali mereka yang memang tinggal disekitar sana. Luas Yabim hanya sekitar 250 m2 yang terdiri dari bangunan kelas untuk sekolah, asrama, dan juga ruangan serba guna lainnya. Jika dibandingkan dengan sekolah yang biasa-biasa saja, Yabim bisa dibilang kurang layak untuk menjadi sebuah sekolah. Bangunan sekolah yang seadanya, ruang kelas yang sangat sedikit sehingga terkadang para siswa SMA, SMP, dan SD harus belajar dalam satu ruangan bersama-sama yang tentunya ruangan menjadi sangat sempit, ditambah lagi dengan letak Yabim yang sangat dekat dengan terminal bis yang membuat suasana sangat ramai dan bising sehingga tidak kondusif untuk belajar. Walaupun begitu, para siswa tetap rajin bersekolah dan semangat belajar. Kegiatan sekolah diadakan setiap hari Senin sampai dengan Jum’at seperti sekolah pada umumnya. Jam sekolah diatur secara bergantian untuk siswa TK, SD, SMP, dan SMA karena ruang kelas yang terbatas. Untuk siswa TK, SD, dan SMP jam sekolah pada pagi hari, kemudian siang hari giliran siswa SMA dan sebagian siswa SMP yang masuk kelas. Para siswa yang sekolah di Yabim ini tidak dipungut biaya sepeser pun, mulai dari uang SPP, tinggal di asrama, sampai dengan buku-buku sekolah mereka dapatkan dengan gratis dari Yabim. Bahkan, setiap hari para siswa disediakan makan gratis oleh Yabim. Biaya operasional Yabim ini berasal dari banyak pihak, misalnya dari pemda Kota Depok, Basnas, donatur dari masyarakat, dan juga dari bapak Rohim sendiri sebagai pendiri dan Pembina Yabim ini. Yabim didirikan oleh bapak Rohim sekitar tahun 2000-an dengan uang miliknya sendiri, tenaga pengajar pun awalnya beliau sendiri kemudian ketika sekolah ini mulai berjalan dan banyak murid yang mendaftar, barulah banyak orang-orang yang bersimpati untuk turut membantu berjalannya sekolah gratis Yabim ini, baik dengan memberikan bantuan berupa dana maupun menjadi tenaga pengajar yang tidak dibayar.
Gagasan awal melakukan kunjungan ke Yabim ini didasari oleh tugas mata kuliah etika enjinering, yaitu mengunjungi tempat-tempat kaum marjinal. Awalnya, kami mencari tahu informasi mengenai tempat-tempat kaum marjinal yang berada disekitar daerah depok, berdasarkan informasi yang didapat dari salah seorang teman bahwa ada yayasan yatim piatuh dan tunawisma di sekitar terminal depok. Ternyata, setelah kami kunjungi tempat tersebut (Yabim), yayasan tersebut bukanlah yayasan untuk menampung anak-anak yatim piatuh ataupun tunawisma melainkan sebuah sekolah gratis untuk para kaum dhuafa, yakni Yayasan Bina Insan Mandiri (Yabim). Meskipun ada kesalahan informasi yang kami dapat, kami menganggap Yabim juga merupakan tempat bagi para kaum marjinal sehingga kami melanjutkan wawancara dengan beberapa siswa disana. Pertama kali kami tiba di
Yabim, tempat tersebut tidak memberikan kesan bahwa itu merupakan sebuah sekolah, melainkan seperti rumah-rumah kontrakan yang berbaris. Ketika kami tiba disana, mereka melihat kami bagai orang asing yang sedang tersesat karena kami bolak-balik disekitar Yabim. Ada beberapa siswa SMA yang sedang duduk-duduk santai di sekitar Yabim menunggu giliran masuk kelas mendekati kami dan bertanya mengenai keberadaan kami disana. Setelah kami menjelaskan tujuan kami mengunjungi tempat mereka, barulah mereka bersedia untuk di ajak wawancara dan mereka pun sepertinya merasa senang dan agak heboh ketika ada yang mau mewawancarai mereka, terutama karena kami membawa nama UI, sehingga kami sangat komunikatif berbincang-bincang dengan mereka. Para siswa Yabim sangat ramah dan antusias ketika kami wawancarai, mereka memanggil teman-temannya yang lain untuk ikut diwawancarai, alhasil suasana wawancara kami sangat ramai dan penuh dengan canda bersama mereka. Sayangnya, kami tidak dapat menemui bapak Rohim yang merupakan pendiri yayasan ini. Menurut informasi dari siswa-siswa yang kami wawancarai, bapak Rohim sedang bekerja dan hanya sesekali saja datang mengunjungi Yabim untuk mengontrol para siswa dan juga untuk mengajar bila beliau memiliki banyak waktu, maklum kegiatan beliau selain menjadi pengusaha, beliau juga sedang meneruskan pendidikan S2 nya di bidang hukum. Walaupun kami tidak dapat menemui para pengurus Yabim secara langsung, wawancara yang kami lakukan dengan para siswa Yabim saja kami kira sudah cukup untuk mendapatkan informasi mengenai keberadaan Yabim ini.
Ariel Lunda, salah seorang siswa SMA Yabim, dengan spontan mendominasi pembicaraan kami dengan para siswa yang lain. Dia dengan santai berbicara dan bercerita banyak mengenai Yabim, meskipun diselingi dengan canda dan celotehan dari teman-temannya yang lain yang ingin ikut berbicara dengan kami. Perbincangan kami berlanjut sampai kira-kira 45 menit dan mereka pun tidak segan-segan untuk berbicara, mulai dari cerita menyangkut kehidupan di Yabim hingga berkomentar tentang pemerintah yang diminta untuk lebih memperhatikan nasib para anak-anak dhuafa dan juga menyampaikan impian dan harapan-harapan mereka kepada masyarakat untuk turut berpartisipasi membantu mereka dan juga yayasan-yayasan sejenis yang lain. Banyak para siswa Yabim yang menyampaikan harapan-harapannya kepada pemerintah melalui kami, mereka berharap pemerintah dan para pejabat memperhatikan nasib anak-anak dhuafa seperti mereka, terutama menyangkut masalah pendidikan. Mereka mengatakan bahwa di Yabim ini kekurangan guru yang berkualitas, sehingga banyak guru-guru yang mengajarkan mata pelajaran yang bukan keahlian mereka tetapi dipaksakan demi berjalannya proses belajar dan mengajar di Yabim. Selain itu, mereka juga mengatakan bahwa Yabim kekurangan ruang kelas untuk belajar sehingga tidak jarang mereka harus bergabung dalam satu kelas bersama para siswa SMP yang membuat suasana menjadi sulit untuk berkonsentrasi. Disamping itu, kelas yang sekarang ada pun kondisinya sudah kurang layak sehingga mereka berharap ada orang yang mau membantu memperbaiki ruang kelas mereka, misalnya dengan memperbaiki atap-atap dan lantai yang sudah rusak ataupun mengecat ruang kelas yang sudah kusam.
Dari wawancara kami yang sebentar dengan para siswa Yabim, kami mendapatkan banyak pelajaran-pelajaran hidup yang bermanfaat untuk kami bagikan kepada orang lain supaya mereka juga terbuka mata hatinya untuk melihat bahwa diluar sana masih banyak masyarakat kita yang hidupnya jauh dari sejahtera bahkan kekurangan untuk hanya sekedar bersekolah ataupun membeli buku. Akan tetapi, kami melihat para siswa Yabim ini masih tergolong orang-orang yang beruntung karena masih dapat bersekolah secara gratis jika dibandingkan dengan anak-anak yang tidak dapat menikmati pendidikan sama sekali. Bayangkan saja, masih banyak anak-anak Indonesia yang seharusnya sedang menikmati masa-masa sekolah dan bermain, tetapi mereka harus kehilangan itu semua demi membantu mencari nafkah bagi keluarganya.
Kondisinya sangat jauh berbeda jika kita melihat kehidupan para pemimpin kita, yakni wakil rakyat, sungguh kehidupan mereka sangat jauh berbeda dengan kehidupan masyarakat pada umumnya, apalagi kaum marjinal. Mereka, para wakil rakyat hidup dalam kesejahteraan dan bergelimang dengan segala kemewahan yang sesungguhnya itu merupakan uang rakyat yang semestinya menjadi hak rakyat untuk menyejahterakan hidupnya. Tidak hanya itu, jika kita melihat tingkah laku mereka di gedung DPR atau DPD sungguh sangat mencerminkan perilaku yang tidak terpuji apalagi mereka sebagai wakil dari rakyat seharusnya memberikan contoh teladan yang baik kepada masyarakat. Berbagai pemilu kada di beberapa daerah sangat identik dengan kekerasan, demonstrasi, sampai dengan aksi bakar-bakaran. Sungguh ironis memang, para wakil rakyat yang seharusnya menjadi panutan dan melayani aspirasi masyarakat malah memberikan contoh yang sangat buruk dan hanya berorientasi pada kepentingan pribadi masing-masing. Lain lagi dengan masalah birokrasi yang dipersulit, mulai dari tingkat bawah sampai dengan pemegang kebijakan yang sangat identik dengan upeti atau pungutan liar. Tidak jarang masyarakat kita yang hanya ingin membuat KTP ataupun ingin meminta dibuatkan kartu keluarga miskin untuk masuk rumah sakit dipersulit dengan birokrasi yang berbelit-belit dan banyak pungutan liar. Para siswa Yabim juga bercerita bahwa mereka pernah mendatangi kantor pemda setempat hanya untuk sekedar meminta surat pengantar bagi para murid TK yang ingin mengajukan bantuan ke salah satu LSM, mereka disepelekan dan dipersulit dengan birokrasi yang tidak jelas kemana arahnya. Perilaku yang menunjukkan etika buruk ini sungguh memalukan bangsa kita, para pelayan rakyat yang seharusnya melayani masyarakat dengan sepenuh hati malah membuat masyarakat tambah sulit. Kebanyakan dari mereka baru mau bekerja jika ada upeti pahadal mereka sudah dibayar oleh uang rakyat. Karakter buruk ini pun sepertinya sudah melekat pada hampir semua lembaga pemerintahan sehingga hal-hal yang sepatutnya tidak layak dilakukan oleh pelayan masyarakat sudah menjadi kebiasaan yang melekat pada semua lembaga pemerintahan.
Jika kita mau membandingkan kehidupan para wakil rakyat yang difasilitasi kemewahan luar biasa dengan kehidupan para kaum marjinal yang hanya untuk makan sehari-hari saja mereka kesulitan dan harus bekerja keras dulu untuk mendapatkannya. Jika kita melihat tayangan-tayangan televisi yang memberitakan tentang keributan pada anggota
DPR ketika rapat, mereka tidak mempunyai rasa malu kepada rakyat dengan menunjukkan perilaku yang tidak beretika dan tidak pantas dilakukan apalagi oleh dewan yang terhormat yang hanya berjuang untuk mendapatkan kepentingannya masing-masing yang seolah-olah dikemas demi kepentingan rakyat. Kita, terutama sebagai mahasiswa harus sadar melihat kondisi bangsa ini yang sudah di klaim menjadi Negara terkorup se-Asia Pasifik. Kita jangan hanya mampu berdemonstrasi untuk menuntut keadilan, tetapi yang dibutuhkan oleh masyarakat saat ini adalah tindakan nyata dari kita yang dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat. Sudah banyak contoh para koruptor besar saat ini yang dahulunya ketika mahasiswa adalah seorang aktivis yang sangat berani menyuarakan aspirasi rakyat dan menuntut keadilan dengan banyak pengorbanan. Akan tetapi, semangat kerakyatan yang dulu pernah dimilikinya saat ini sudah kendur dan hanya tinggal kenangan indah semata, bahkan menjadi boomerang bagi dirinya. Mereka yang telah hidup dalam kondisi nyaman dan segalanya sangat mudah didapatkan seolah lupa dengan keberadaan mereka yang semestinya bertugas untuk menyampaikan dan memenuhi aspirasi masyarakat bukan malah bersenang-senang seperti perilaku kebanyakan wakil rakyat saat ini. Jika kita melihat sosok seorang bapak Rohim, yakni pendiri Yayasan Bina Insan Mandiri yang hanya seorang pengusaha kecil tetapi beliau mampu mendirikan sebuah sekolah bagi anak-anak yang kurang mampu secara gratis, beliau berjuang dengan segala yang dimilikinya, mulai dari tanah miliknya yang dijadikan tempat mendirikan Yabim, uang yang dimiliki untuk kebutuhan kegiatan sekolah, sampai menjadi guru di Yabim.
Berkaitan dengan kunjungan yang kami lakukan ke Yayasan Bina Insan Mandiri terhadap sikap disiplin memperlihatkan kepada kami bahwa meskipun para siswa Yabim memiliki banyak ketebatasan dalam hal ekonomi, tetapi mereka tetap menjalankan hidup dengan penuh semangat dan penuh kedisiplinan. Meskipun gratis, tetapi mereka tetap semangat bersekolah dan mematuhi peraturan-peraturan sekolah. Sifat disiplin mereka terapkan dalam kehidupan sehari-harinya, misalnya dalam mengatur waktu untuk membantu orang tua tetapi tidak mengganggu sekolah, mengatur waktu belajar dan juga waktu bermain. Menurut mereka, kesuksesan berawal dari kedisiplinan. Apabila kita dapat menerapkan kedisiplinan dalam hidup kita, walaupun hanya dimulai dengan hal-hal kecil tetapi jika kita konsisten melakukannya maka hasilnya pun akan baik bagi kita.
Kedisiplinan bukan hanya dimiliki oleh orang-orang yang hidupnya sudah nyaman, tetapi mereka para siswa Yabim pun menunjukkan bahwa meskipun dengan keterbatasan yang dimilikinya dalam banyak hal, mereka tetap dapat bersikap disiplin. Bapak Rohim misalnya, beliau dapat kita jadikan contoh sosok yang menerapkan kedisiplinan pada dirinya. Di awal rencana pendirian Yabim ini meskipun beliau mendapatkan banyak halangan dari berbagai pihak, tetapi beliau tetap berpegang pada prinsip dan tujuannya untuk membantu anak-anak dhuafa. Beliau juga tidak pantang menyerah untuk mengajak orang lain agar turut berpartisipasi dalam membantu Yabim.
Banyak harapan bagi diri saya pribadi dan untuk masyarakat di masa yang akan datang agar setiap anak Indonesia dapat menikmati indahnya masa kecil mereka dengan sekolah dan bermain. Besar harapan saya suatu saat nanti saya dapat mendirikan entah itu sebuah yayasan atau sekolah bagi mereka yang kurang beruntung. Sungguh sosok bapak Rohim patut dijadikan teladan yang baik, meskipun tidak ada yang mendukung niat baiknya, tetapi beliau tidak pernah menyerah untuk mewujudkan cita-citanya yang mulia itu demi memperbaiki nasib anak-anak dhuafa.
Kedisiplinan merupakan suatu modal sikap yang sangat berharga bagi siapa pun. Dengan kedisplinan, kita dapat dengan konsisten melakukan suatu pekerjaan sehingga hasilnya pun dapat sesuai dengan rencana. Dengan melihat kehidupan para siswa Yabim yang tetap disiplin dan semangat dalam sekolah dan menjalani hidup, memberikan pemicu kepada saya agar bersikap lebih disiplin dan juga mengajak orang lain untuk bersikap disiplin juga. Apabila prinsip disiplin diterapkan dalam segala bidang, misalnya seorang karyawan yang disiplin masuk kantor, maka produktivitas dari perusahaan tersebut akan baik yang pada akhirnya akan baik juga terhadap perekonomian Negara. Apalagi jika para pemimpin dan pejabat kita disiplin dalam menerapkan hukum-hukum yang berlaku, maka negeri ini pasti kondisinya akan lebih baik dari sekarang. Misalnya disiplin dalam membayar pajak dan menghukum secara tegas bagi orang yang melanggar hukum.
Betapa banyak kasus korupsi yang merugikan Negara dalam jumlah yang sangat besar, tetapi para pelakunya masih saja bebas berkeliaran menunggu putusan pengadilan yang tidak jelas. Korupsi sepertinya telah menjadi budaya bangsa kita dan telah merambah hampir menjamahi semua instansi-instansi pemerintahan, baik dari level atas sampai level bawah. Saat ini Indonesia sudah diklaim sebagai Negara yang paling korup se-Asia Pasifik. Sungguh ini merupakan prestasi buruk yang sangat memalukan bangsa kita dan membuat harga diri bangsa terinjak-injak di mata dunia. Belum lagi para tahanan korupsi yang banyak mendapatkan remisi tidak tanggung-tanggung dari presiden untuk bebas dari penjara. Ketidaktegasan hukum seperti ini sungguh berpeluang untuk memberi kesempatan kepada para calon koruptor baru, para koruptor tentunya pantas tidak takut untuk bertindak korupsi kalau melihat tidak adanya ketegasan hukum dari pemimpin kita. Sepertinya, dibutuhkan solusi yang radikal untuk memberantas korupsi di negeri ini jika melihat betapa banyak kasus korupsi yang terjadi dan juga budaya korupsi yang sudah melekat di negeri ini. Pemberantasan korupsi harus dilaksanakan mulai dari tingkat yang paling atas sampai tingkat yang paling bawah “up down” mengingat korupsi tidak mengenal level jabatan atau golongan pangkat dan sebagainya. Untuk memberantas korupsi dibutuhkan penegak hukum yang tegas dan berani dalam menghukum para pelaku tindakan korupsi. Dibutuhkan seleksi yang sangat ketat dalam memilih para pemberantas korupsi dengan track record yang memang benar-benar bersih dari tindakan korupsi dan juga berkomitmen untuk memberantas korupsi dengan konsekuensi yang berat apabila melanggar. Pada akhirnya, untuk melakukan perbaikan pada bangsa ini harus kembali pada perbaikan etika setiap individu karena sebaik apapun sebuah sistem jika tanpa dijalankan oleh elemen-elemen
yang juga baik hanyalah berupa harapan kosong untuk melakukan perbaikan pada negeri ini. Negara ini sedang menuju kehancuran, memang untuk memperbaikinya tidak mudah dan mungkin membutuhkan beberapa generasi kedepan sampai negeri ini kembali menjadi negeri yang dapat dibanggakan oleh rakyatnya. Oleh karena itu, dibutuhkan solusi-solusi yang radikal secepat mungkin untuk melakukan perbaikan sebelum terlambat.
Pendapat saya mengenai mata kuliah etika enjinering sampai dengan saat ini cukup baik. Mahasiswa tidak hanya belajar mengenai hukum-hukum dan pasal-pasal yang sebenarnya tidak dibutuhkan oleh mahasiswa teknik. Memang pelajaran etika ini seharusnya lebih diarahkan kepada pembentukan karakter mahasiswa agar menjadi orang yang beretika terpuji, terutama setelah menyelesaikan masa perkuliahan dan berhadapan dengan di dunia nyata. Didalam kehidupan bermasyarakat yang dibutuhkan sebenarnya bukanlah orang-orang yang ahli hukum tetapi manusia yang memang benar-benar beretika baik dan menerapkan hukum dengan benar dan penuh komitmen kepada dirinya masing-masing. Apabila setiap orang memiliki etika yang baik dalam masyarakat, maka tidak terlalu dibutuhkan hukum-hukum yang tertulis ataupun yang berupa ancaman-ancaman didalamnya karena masyarakat yang para individinya memiliki karakter yang baik pasti akan menciptakan kehidupan yang damai dan harmonis.
Sejauh ini, mata kuliah enjinering sudah berjalan baik sesuai dengan tujuan intinya. Selain itu, tugas-tugas yang diberikan oleh dosen pun dapat memberikan mahasiswa pengetahuan dan wawasan yang lebih luas mengenai berbagai sisi kehidupan masyarakat lain, khususnya kehidupan para kaum marjinal perkotaan. Mahasiswa dituntut untuk langsung melihat kehidupan kaum marjinal secara nyata sehingga dapat merasakan dan berpikir untuk menciptakan sebuah solusi demo memperbaiki kehidupan mereka. Akan tetapi, alangkah lebih baik jika mata kuliah etika enjinering ini banyak juga meninjau masalah etika berkaitan yang dengan aspek teknis. Sebagai calon enjiner, mahasiswa juga perlu mengetahui hal-hal menyangkut hukum yang berkaitan dengan keteknikan. Semoga mata kuliah etika enjinering ini menjadi lebih baik lagi dari waktu ke waktu dan dapat memberikan manfaat kepada kita semua.

About Tim Peduli Sosial

Blog ini kami buat untuk tujuan membantu mereka-mereka (khususnya panti sosial, yayasan, dan tempat-tempat kaum marjinal lainnya) supaya bisa membantu dalam hal perluasan jaringan antar yayasan maupun dengan para donatur. Semoga dengan adanya blog kita ini menjadi sebuah karya yang berguna bagi mereka yang membutuhkan. Akhirnya kami berharap agar blog ini dapat dimanfaatkan demi kemaslahatan semua, khususnya mereka yang membutuhkan.
This entry was posted in Indonesia. Bookmark the permalink.

2 Responses to Pengalaman Kami (THMT_Etika Enjinering)

  1. JR says:

    boleh tanya alamat lengkap sekolah ini dimana ya?

  2. Ahmad Faqih says:

    wahhh keren nih…baguss2….hahahhaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s